Hakikat Sastra Tradisional

Juni 19, 2011 darisetianingsih

  1. Hakikat dan Karakteristik Sastra Tradisional

Sastra tradisional (traditional literature) merupakan suatu bentuk ekspresi masyarakat pada masa lalu yang umumnya disampaikan secara lisan (Mitchell, 2003:228). Manusia selalu butuh berkomunikasi dan berekspresi sebagai salah satu manifestasi eksistensi diri dan kelompok sosialnya. Cerita dan tradisi bercerita sudah dikenal sejak manusia ada di muka bumi ini, jauh sebelum mereka mengenal tulisan. Cerita merupakan sarana penting untuk memahami dunia dan mengekspresikan gagasan, ide-ide dan nilai-nilai. Selain itu juga sebagai sarana penting untuk memahamkan dunia kepada orang lain, menyimpan dan mewariskan gagasan dan nilai-nilai dari generasi ke generasi.

Sastra tradisional dikenal di berbagai belahan dunia, misalnya cerita dari Yunani Klasik, India, Cina, Jepang dan dari berbagai pelosok tanah air Indonesia. Cerita-cerita tradisional itu dapat b erwujud legenda, mitos, fable, dan berbagai bentuk cerita rakyat yang lain yang sering disebut sebagai folklore, folktale atau sebutan-sebutan kategorisasi lainnya.

Secara umum kesastraan menurut Stewig (1980:160-1), dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu (i) sastra rekaan (composed literature) dan (ii) sastra tradisional (traditional literature). Menurut Mitchell (2003:228) cerita-cerita tradisional pada umumnya menampilkan tokoh yang bersifat sederhana dan stereotip yang mempresentasikan kualitas sifat kemanusiaan tertentu. Dilihat dari segi alur, cerita tradisional pada umumnya bersifat linear dan hanya menampilkan satu jalinan kisah. Jadi sama halnya dengan penokohan, pengaluran cerita tradisional juga bersifat sederhana. Selain itu di sana-sini di sela-sela alur cerita juga lewat karakter tokoh diselipi dengan pesan-pesan moral dan pandangan tentang kebenaran.

  1. Nilai Sastra Tradisional

Dilihat dari fungsi kesastraan bagi kehidupan manusia, sastra tradisional mempunyai fungsi untuk mendukung berbagai perkembangan kedirian anak, baik yang menyangkut perkembangan aspek emosional, afektif, kognitif, imajinatif, perasaan estetis, maupun perkembangan kebahasaan dan sama-sama berfungsi memberikan hiburan yang menyenangkan. Menurut Saxby (1991:91) sastra tradisional kini telah menjadi bagian dari sastra anak. Huck dkk. (1987:253) bahkan mengemukakan bahwa sastra tradisional merupakan sebuah warisan sastra anak yang berharga dan menjadi dasar pemahaman seluruh kesastraan.

Huck mengemukakan bahwa sastra tradisional adalah milik masyarakat yang menciptakannya dan dikisahkan baik kepada orang dewasa maupun anak. Anak dapat menikmati cerita itu karena menarik, sering mngandung humor, dan pada umumnya cerita berakhir denagn kebahagiaan. Tokoh cerita yang baik mendapat hadiah, sedang tokoh jahat mendapat hukuman. Hal ini oleh Aristoteles kemudian disebut sebagai Katarsis, prinsip pencucian dari segala dosa. Bagi anak hal itu dapat dipandang sebagai pembelajaran prinsip-prinsip keadilan dan penilaian moral.

Dalam sastra tradisional antara lain dikisahkan berbagai fabel yang dapat dikategorikan sebagai cerita fantasi. Chukovsky (via Huck dkk, 1987:253) mengemukakan bahwa cerita fantasi merupakan sesuatu yang paling berharga dalam jiwa kemanusiaan dan amat menunjang perkembangan anak sejak awal pertumbuhannya. Sastra tidak lahir dalam situasi kekosongan budaya, tetapi pasti muncul pada masyarakat yang telah memiliki tradisi, adat istiadat, konvensi, keyakinan, pandangan hidup, cara hidup, cara berpikir, pandangan tentang estetika dan lain-lain yang merupakan wujud kebudayaan. Sebagai sebuah kebutuhan untuk berekspresi dan bereksistensi sastra dipakai untuk mengungkapkan berbagai pola kehidupan masyarakat, sehingga sastra akan mencerminkan keadaan kehidupan sosial budaya masyarakat itu.

Pesan-pesan yang terdapat dalam karya sastra pada umumnya juga berupa nilai-nilai yang ada kaitannya dengan nilai-nilai yang terdapat pada latar belakang social budaya masyarakat. Dengan membaca cerita tradisional dari berbagai daerah kita dapat memperoleh pengetahuan wawasan dan pemahaman tentang kebudayaan masyarakat yang bersangkutan (Norton & Norton, 1994: 355).

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Juni 2011
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: